Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan: Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis - ipung.net
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan: Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis

Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis

Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis. Demikianlah yang saya ingat dari sebuah nasihat lama orang tua yang masih terngiang-ngiang dikepala dikala setiap menyantap makanan. Ambil secukupnya, lalu habiskan bukan sebaliknya asal ambil lalu dibuang percuma dan sia-sia. Apakah kalian pernah mengalami atau bahkan kini tengah melakukannya kepada Anak anda di rumah supaya makanan segera dihabiskan?

Pesan lain yang mungkin sering kita dengar
"Habiskan Makananmu, Kasihan Nanti Ayamnya Mati Kalau Gak Habis"

Bijak Soal Makanan  

Pesan bijak di atas tentunya masih selaras dengan kehidupan masa kini. Bahkan, hal ini selayaknya untuk kita teruskan ke generasi penerus. Pasalnya, makanan merupakan salah satu rejeki yang patut kita syukuri dengan tidak seenaknya dibuang percuma. Coba kita tengok sekali lagi tentang fakta yang mengejutkan dari masalah makanan agar diri kita dapat terus menghargai makanan, diantaranya:

  • Masih banyaknya orang yang kekurangan makanan karena perekonomian kini kian sulit;
  • Sampah Makanan atau Waste Food menyebabkan rusaknya lingkungan.
Apa itu Food Waste?
Food Waste merupakan makanan yang dibuang percuma dan menumpuk di tempat pembuangan sampah yang memicu efek negatif terhadap lingkungan. Jadi ingat ya sampah sisa makanan disebut food waste.

Stop Buang Makanan, Mubazir!

Food and Agriculture Association (FAO) bahkan merilis data dan mengatakan bahwasannya banyak makanan setiap tahunnya terbuang dengan percuma. Tak tanggung-tanggung yakni hampir 1,6 milyar ton makanan. Bahkan 1.3 milyar ton sampah tersebut, sebagian besar merupakan makanan yang masih layak dimakan. Ironis kan? 

Di sisi lain, setidaknya terdapat sebanyak 870 juta penduduk yang ada di dunia ini tengah mengalami krisis makanan. Akan tetapi masih banyak pula makanan yang terbuang percuma. Padahal, dengan menyisihkan 1/4 saja dari makanan tersebut kita masih bisa membantu sesama. Coba anda bayangkan. Masih tega menyia-nyiakan makananmu?
Melihat banyaknya fakta makanan yang terbuang menunjukkan bahwa sebenarnya dunia ini tidak sedang dalam krisis makanan. Hal ini bila kita bijak mengelola makanan dan tentunya bebas sampah makanan. Iya kan?
Data lain dari berbagai sumber juga menyatakan hal sama. CNN Indonesia menyebutkan bahwa sampah makanan penduduk Indonesia bisa mencapai 1,3 juta ton setiap tahunnya atau rata-rata 300 kg per orang menyumbang sampah makanan.  Tingginya jumlah sampah makanan, menurut Media Indonesia bila masih bisa dibagikan sebagai makanan layak dapat menghidupi sekitar 11% penduduk yang setara sebanyak 28 juta penduduk miskin. Bila diibartkan dengan bangunan, Bandung Food Smart City juga menggambarkan bahwa sisa makanan yang terbuang percuma di Indonesia beratnya setara dengan 500 berat Monumen Nasional (Monas) dan menempatkan Indonesia menduduki posisi ke dua. Negara pembuang makanan terbanyak di dunia adalah Arab Saudi.
Bisa makan hari ini tentu adalah nikmat yang senantiasa patut kita syukuri. Masih banyak saudara kita yang belum tentu seberuntung kita. Melihat kondisi ini, masihkan kita menyiakan makanan yang ada di atas piring untuk disia-siakan? Tentunya tidak kan? Ingat, dalam agama juga ada pesan dimana kita tidak boleh boros, salah satu penjabarannya kita tidak boleh boros dalam mengkonsumsi makanan. 

Stop Buang Makanan, Mubazir!

Dampak Sampah Makanan

Permasalahan sampah makanan sering dibicarakan sebagai isu global dan ada juga yang berpendapat lain karena kurang tahunya dampak sampak makanan tersebut.

"Ini kan Makananku, Aku Yang Beli. Ngapain Kamu Kok yang Repot? Terserah Mau Aku Makan Habis, Dibuang Atau Apalah." Salah satu sobat dekat mulai berandai dengan opini tersebut.

Masih adakah yang berfikiran demikian? Ini bukan soal kemampuan bisa atau tidak membeli makanan, jawabku singkat. Oke, saya sendiri sangat yakin Anda orang beruntung yang dapat membeli banyak makanan. 

Namun, apa jadinya jika alam satu-satunya ini rusak? Kehidupan terancam akibat rusaknya lingkungan. Apakah kekayaanmu, harta yang kamu miliki bisa membeli alam lain? Tentu ini tidak mungkin. Terus apa hubungannya dengan soal makanan? Oke saya jelaskan pelan-pelan ya sob.

Jadi begini ya. Setiap bahan makanan yang kemudian diolah menjadi makanan itu akan memiliki dampak lebih luas ketika kita tidak menghabiskannya. 

"Sampah makanan kan bisa terurai? Beda dengan sampah  plastik" sahut sobat dekatku sekali lagi.

Bukan begitu sob, terkadang kita berfikir demikian. Sampah makanan berasal dari bahan organik yang dapat terurai oleh alam. Namun, perlu kita ketahui bahwa fakta sebenarnya mengatakan sampah makanan juga berbahaya bagi lingkungan kita apabila tidak dikelola dengan bijak. Pengelolaan sampah makanan sudah seharusnya menjadi prioritas untuk mengurangi dampak lebih buruk.

Problematika Sampah Makanan

Berdasarkan hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa membuang sampah makanan di dalam tanah akan menyebabkan proses dekomposisi. Proses ini disebut pula dengan istilah pembusukan. Pada saat proses ini, sampah akan menghasilkan air lindi atau air sampah. Nah, bila hasil lindi ini kemudian tidak dikelola juga akan berakibat tercemarnya lingkungan tanah yang berakibat fatal pula terhadap kualitas air disekitar.

Air lindi hasil dekomposisi sampah memiliki konsentrasi tinggi yang menyebabkan oksigen berkadar rendah bila larut dalam air. Alhasil, kualitas air ini sangat tidak layak dikonsumsi makhluk hidup, khususnya manusia. Bahkan zat kimia tersebut bisa sangat beracun bila terkontaminasi dengan senyawa logam berat.
Zat berbahaya dari sampah sisa makanan yang  terkonsentrasi diantaranya Hexachlorobenzene, Dioxin, Polychlorinated biphenyl (PCB) dan Parafin terklorinasi rantai pendek (PFOS). Zat-zat kimia tersebut dapat memicu kanker dan mengubah fungsi endokrin. Parahnya, kekebalan tubuh manusia dapat menurun dan rusak setelah terkontaminasi PFOS. 
Selain itu, perlu diketahui juga bahwa proses dekomposisi sampah organik dapat menghasilkan gas berbahaya, seperti metana (CH4) dan Hidrogen Sulfida (H2S). 

Gas metana dari sisa makanan dapat mencemari kualitas udara dilingkungan sekitar dan lebih jauh lagi dapat menjadi penyebab efek gas rumah kaca yang akan merusak lapisan ozon pada atmosfer bumi. 
Sampah makanan dapat menyumbang emisi gas karbon yang ada di atmosfer bertambah. Bahkan akan terus bertambah hingga berakibat efek rumah kaca dan kemudian menjadi salah satu faktor terjadinya perubah iklim global.
Dampak sampah makanan yang diulas di atas tentunya sulit untuk dijangkau khalayak umum ya. Karena prosesnya tidak terlihat meskipun dampaknya nyata di lingkungan sekitar kita. Tapi tenang, saya akan lanjutkan penjelasannya tentang dampak sampah makanan yang nyata deh. 

Sampah makanan juga sama dengan sampah lainnya ya sob yang nyata dapat merusak tatanan lingkungan kita, seperti menyebabkan gangguan panca indera karena bau tidak sedap, pencemaran udara, tanah, air, serta menjadi penyebab banjir di kala musim hujan. 

Tingginya jumlah sampah juga berdampak pada pengelolaan sampah di TPA. Meskipun sudah dibuang pada tempatnya, namun risiko besar juga masih menghantui yakni seperti kejadian adanya ledakan gas metana di tumpukan sampah serta longsor sampah yang membahayakan para pengelola.
Peristiwa Longsor di TPA
TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwigajah Cimahi pada tahun 2005 pernah mengalami ledakan gas metana yang menyebabkan longsor timbunan sampah yang sudah menggunung. Dari peristiwa ini, 157 orang kehilangan nyawa dan permukiman sekitar rusak parah tertimbun sampah.

Pada tahun 2018 jga terjadi lagi longsor TPA Supit Urang di Malang yang menewaskan seorang pemulung.
Ledakan Sampah Leuwigajah Cimahi

Solusi Problematika Sampah Makanan

Banyaknya masalah yang telah kita bahas di atas, apakah kita berdiam diri? Tentu tidak ya. Kita juga harus melangkah mengurangi masalah yang ada. Cara mengurangi sampah makanan perlu segera diatasi. Setidaknya kembali ingat pesan orang tua kita di atas, "habiskan makananmu, nanti makanannya nangis". Ya, kita tidak boleh juga makanan kita menangis karena kita menyia-nyiakannya. Selain itu apa lagi ya? Yuk simak solusi yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah makanan.

Gaya hidup minim sampah makanan sudah selayaknya kita gaungkan mulai dari sekarang sebagai bagian dari peran aktif mengurai dan memiminimalisir problematika sampah makanan. Pembiasaan diri dapat dimulai dengan implementasi 3 R, yakni Reduce, Reuse, Recycle. Selain itu, pembiasaan diri dalam meminimalisir sampah makanan diantaranya sebagai berikut:

Makan Sesuai Porsi Kebutuhan

Ambillah makanan sesuai dengan kebutuhan untuk konsumsi. Hal ini dapat menghindari makanan yang tidak habis dimakan.

Simpan Makanan Sesuai Tempat

Letakkan bahan makanan atau makananmu sesuai tempat agar nanti dapat kembali diolah atau dimakan lagi. Tempat yang sesuai ini dimaksudkan agar makanan bebbas dari kotoran, hewan lain, dan tentunya dapat menjaga keawetan makanan dari pembusukan. Salah satu tempat yang tepat adalah disimpan dalam kulkas atau frezeer sesuai dengan bahan makanan atau makanan tersebut.

Kreatif  Olah Makanan

Sisa makanan atau bahan makanan jangan asal dibuang ya. Cobalah untuk memadukannya untuk menjadi resep baru. Cara ini tentu bukan hal sulit bila kita terus belajar mencoba. Perbanyaklah membaca buku resep masakan biar dapat memadukan bahan makanan satu dengan yang lain sesuai seleramu. 

Mandiri Olah  & Pilah Sampah

Seandainya memang makanan sudah tidak layak makan, sebaiknya kita juga bijak dalam "membuang" sampah makanan. Dalam artian, sampah makanan tersebut kita olah agar tidak menjadi penyumbang polusi lingkungan. Sampah makanan bisa kita berikan ke hewan ternak atau kita jadikan bahan pupuk kompos.

Berbagi Makanan

Seperti yang kita ketahui bahwa berbagi adalah cara efektif untuk membantu sesama yang membutuhkan. Berbagi tak akan pernah membuat kita rugi dan justru akan membuat hidup berkah. Dari pada dibuang mubazir dan tidak ada yang menghabiskan, lebih baik kita bagikan kepada yang membutuhkan.

Kesimpulan

Berbicara tanggung jawab tidak melulu soal jabatan, ekonomi, pekerjaan, dan berhubungan dengan hal besar. Tapi, cukup sederhana. Tengoklah piringmu ketika kamu makan. Sudahkan kita bertanggung jawab atas makanan di atas piring yang telah kita ambil? Ya betul, belajar tanggung jawab dapat dimulai dari diri kita dan dari hal yang sederhana. Contohnya mengambil makanan dan tanpa menyisakannya alias tidak membiarkannya mubazir karena tidak dihabiskan sampai menjadi sampah makanan. 

Perlu kita tahu bahwa, nasihat bijak yang telah ditanamkan sejak kita kecil sepantasnya terus kita implementasikan setiap hari. Selain sebagai bentuk tanggung jawab, menghabiskan makanan adalah tindakan sebagai bentuk kita bersyukur terhadap tuhan yang maha esa. Menyiakan makanan berarti menyiakan rejeki dan turut andil dalam merusak lingkungan. 

Yuk kita bijak dalam mengambil makanan dan ingat  terus pesan orang tua "Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis" dan “siapa tahu butir nasi terakhirmu ada berkah rejekimu”. Sudahkan hari ini anda bebas sampah makanan?


INFO

Bandung Food Smart City Bandung Food Smart City
merupakan sebuah gerakan kepedulian terhadap sampah makanan dan berperan mewujudkan bandung sebagai kota bebas dari sampah makanan.

Fanpage : bandungfoodsmartcity
Twitter : @bdgcerdaspangan
Instagram : @bandungfoodsmartcity
Youtube : bandungfoodsmartcity

ipung.net
ipung.net For any business inquiries, endorsement, collaboration, job, etc. Please send your email to: ipung@gmx.com

Post a Comment for "Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan: Habiskan Makananmu, Nanti Makanannya Ikut Menangis"